22/08/11

permasalahan ekonomi "kemiskinan" ditinjau dari budaya dan Etik Ekonomi Islam

kenapa pada dasawarsa saat ini ummat Islam diseluruh dunia mengalami berbagai krisis terutama di negara yang mayoritasnya ummat Islam?mari kita lihat, banyak aspek yang membuat Ummat Islam pada dasawarsa ini mengalami berbagai krisis,adapaun yang akan dibahas saat ini adalah krisis dalam bidang ekonomi. pertama, tidak adanya pendidikan yang memadai, bisa juga itu muncul karena "salah urus sistem pendidikan oleh penguasa".sejarah membuktikam pendidikan menjadi salah satu tolak ukur peradaban suatu bangsa.Negara Maju mayoritas penduduknya lebih berpendidikan dibandingkan dengan Negara yang berkembang, tidak bisa dipungkiri bahwa ini pun menjadi sebuah penilaian sebuah strata peradaban. kedua,ekonomi yang tidak berasio, yaitu ekonomi yang didasarkan Syirik, seperti percaya akan takhayul, mitos-mitos dan lainnya. adapun contoh dari ekonomi yang tak berasio adalah kebudayaan bangsa arab Jahiliyah mengundi nasib. caranya ialah dengan menyiapkan 3 anak panah dan menulis kata "lakukan", "jangan lakukan",pada panah. disaat mereka ingin berniaga, mereka mengambil salah satu dari tiga anak panah tersebut, jika tidak terdapat tulisan maka mereka akan mengambil lagi. dan saat mendapatkan tulisan "jangan lakukan", maka mereka tak akan melakkukan niaga, adapun di Indonesia banyak contoh tindakan yang tidak berasio, antara lain mempercayai ramlan Dukun. hal-hal tersebut bertentangan dengan sistem ekonomi yang ada, yaitu jika ingin mendapatkan hasil harus dengan usaha yang sebaik-baiknya. selanjutnya,sikap malas dan meinginginka sesuatu dengan cara instan, ini adalah momok yang paling menakutkan yang timbul dari diri seseorang, jika sifat ini dipelihara maka takkan dijamin tidak akan mendapatkan apapun kecuali kenistaan. terakhir yaitu sifat boros dan berfoya-foya "jor-joran".
kesimpulan
jika empat masalah tersebut tidak ditangani dengan sungguh-sungguh,maka tidak akan timbul perubahan dibidang kesejahteraan. adapun hemat saya harus ada harmonisasi antara internal dan eksternal diri kita untuk menghindari semua permasalahan itu. adapun dari internal, kita harus menanamkan sifat hemat, Rajin, Bersungguh-sungguh dalam melakukan pekerjaan, seperti yang dianjurkan didalam Al-Qur'an (al-a'raf:31, Al-Isra':26-27, Yusuf: 47-49). dari eksternal diri kita adalah regulasi dari pemerintah yang mendukung iklim perekonomian yang harmonis, tidak menguntungkan atau merugikan salah satu pihak. semulia apapun sistem jikalau moral yang melaksanakan sistem tersebut nista maka nistalah hasilnya.

Tidak ada komentar: